PR Nadiem Makarim Jadi Mendikbud: Kurikulum, Birokrasi dan Guru

Federasi Serikat Guru Indonesia atau FSGI mendorong Nadiem Makarim, Mendikbud yang baru, untuk meramu kurikulum yang visioner guna memajukan pendidikan Indonesia. Heru Purnomo, Sekjen FSGI, menyebutkan bahwa kurikulum yang ada sekarang ini belum bisa menjawab tantangan dalam 10 tahun ke depan. 

FSGI Ingin Kurikulum yang Visioner 

“Bahkan tidak lagi digunakan. Saya berharap, Pak Menteri di hari ini kapasitasnya sebagai inovator mampu mengeliminasi hal-hal yang tak bermanfaat nantinya,” kata Heru dilansir dari CNN Indonesia, hari Rabu (24/10). 

Heru juga mengatakan bahwa Nadiem berlatar belajang pengusaha, tentu saja memiliki ide perubahan untuk dunia pendidikan. Ia juga berharap kemampuan Nadiem sebagai inovator mampu diaplikasikan di dalam dunia pendidikan. Heru pun menjelaskan walaupun kurikulum adalah hal yang penting. Tapi pemerintah pun diminta tak lupa SDM (Sumber Daya Manusia) yang anda untuk tenaga guru yang profesional. 

“Seorang guru harus dilengkapi dengan berbagai ketrampilan mulai dari pedagogi sampai psikomotorik dan juga sosial,” imbuhnya lagi. 

Pengajaran dan juga kemampuan guru yang sekarang ini, dikatakannya, boleh jadi tidak lagi relevan untuk puluhan tahun yang akan datang. Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri. “Maka Pak Menteri yang paham soal IT, dampak dan juga efek revolusi industri generasi keempat dan juga dunia digitalisasi dengan pendektan seperti itu maka harapan kami persiapan untuk menuju pendidikan digitalisasi dan juga lainnya itu bisa direspons dengan baik,” imbuhnya lagi. 

Ia juga mengakui permasalahan yang akan dihadapi Nadiem bakal sangat kompleks. Karena tanggung jawab kementerian yang sekarang ini dibawahi oleh Nadiem, bukan soal sistem pendidikan, namun juga tentang pengawasan anggaran sampai pelaksanaan program.

“Kemendikbud ni, selain luas, juga problemnya sangat rumit.” 

Hambatan yang lainya yang mungkin saja dihadapi saat ini adalah berbelitnya birokrasi yang ada di kementerian. Tapi Heru optimis Nadiem dapat menggunakan kapasitasnya dan juga kewenangannya sebagai menteri untuk mengatasi problem tersebut. “Sehingga saat berhadapan dengan birokrat-birokrat yang cukup lama itu kita dapat mencari jalan keluar, bukan tenggelam dalam birokrasi yang selama ini menjadi hambatan,” ungkapnya lagi. 

Tantangan Nadiem Sebagai Menteri Termuda di Kabinet Jokowi 

Nadiem memang boleh berpengalaman di dunia bisnis. Namun ia masih seperti intern atau anak magang di kabinet Jokowi ini karena ia adalah menteri termuda. Lahir di Singapura, 4 Juli 1984, membuatnya berjarak jauh dari segi usia dengan para menteri lainnya. Rata-rata usia menteri Kabinet Indonesia Maju adalah 57.7 tahun. 

Rena Masri, seorang psikolog, mengatakan bahwa usia muda tidak lah jadi halangan bagi Naidem menjadi seorang menteri. Ia bahkan menduga bahwa akan ada gebrakan dan perubahan positif yang dihasilkan seorang menteri muda. 

“Orang muda, kan, lebih cepat, kreatif, dan jadi bisa saja bikin perusahaan positif. Meskupun effort (usaha) bakal lebih banyak,” ungkapnya dilansir dari CNN Indonesia. 

Tidak sekedar mengemban tanggung jawab besar, menteri yang masih muda seperti Nadiem Makarim ini mesti memimpin jajaran staf yang usianya berada jauh di atas dirinya. Nah, Rena menggarisbawahi, sebaiknya Nadiem yang masih mudah mengenal dan memahami perkembangan psikologis mereka yang sudah memasuki usia senior di kementerian. “Meski jabatan (menteri berada) di atas para senior ini, namun harus menghargai dan menghormati, tetap bisa mendengarkan mereka, belajar dari pengalaman mereka,” tukas Rena. 

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*